Belajar adalah passion saya dan membagikan ilmu yang saya miliki untuk memberikan kemanfaatan maksimal bagi orang banyak adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Proses belajar tanpa henti adalah sebuah fitrah, mengambil pelajaran adalah pilihan dan menyedekahkan ilmu yang bermanfaat adalah kesempatan.
Minggu, 07 April 2019
BUNDA SAYANG TANTANGAN LEVEL 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF #8
Project hari ke 7 : Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai Pendidik
Amanat sebagai pendidik yang terberat yang aku rasakan adalah menjadi contoh / teladan bagi anak - anak didiku. Aku sendiri sejujurnya masih sering up and down semangatnya, kadang emosi juga kurang terkontrol, kadang juga ucapan kurang tertata.
Menjadi pendidik, sebenernya cita citaku sejak kecil. Di penghujung usia, baru Allah kabulkan. Mimpi ini sebenarnya sudah pernah terkubur dalam, tapi ketika Allah berkehendak, semua tiba tiba muncul di genggaman.
Banyak hal yang musti di improve sebetulnya, karena untuk menjadi pendidik diperlukan banyak soft skill. Mendidik anak - anak titipan Allah ini sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.
Anak - anak ini berkumpul dari berbagai latar belakang keluarga, berbagai model didikan orang tua, berbagai tempaan lingkungan sosial, berkumpul menjadi satu, belajar menerima dan di terima di lingkungan sosial yang baru.
Aku ingin cita cita yang akhirnya kuraih di penghujung usia ini benar benar bisa aku jalani dengan baik, memberikan sentuhan tersendiri di jiwa dan sanubari anak - anak, tentang apa itu pendidikan islam yang sebenarnya. Pendidikan anak anak dengan basis parenting nabawiah. Pendidikan yang tetap memenuhi fitrah anak - anak, tetap memiliki kedekatan dan chemistry dengan orang tua walau berjarak tempat dan waktu.
Bismillah.... sebuah keindahan yang luar biasa... semoga semua bisa berjalan seiring ridha Allah SWT.
#hari8
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
BUNDA SAYANG TANTANGAN LEVEL 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF #7
Project hari ke 6 : Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai seorang pimpinan
2 tahun lebih menjadi bagian dari pimpinan pondok pesantren itu gak mudah ternyata. Apalagi di pondok yang mempunyai beban akademis yang cukup berat karena tuntutan kerjasama dengan Labschool, beban hafalan alquran 5 Juz per tahun, beban kedisiplinan semi militer yang ditetapkan, membuat orang - orang didalamnya memiliki tekanan kerja yang cukup tinggi, speed yang selalu cepat dan ritme yang sangat dinamis.
Orang-orang yang ada didalamnya dituntut memiliki kemampuan fast learner dan multitalenta. Orang-orang yang special dengan latar belakang yang luar biasa. Dan sebagai pimpinan ini tantangan yang juga luar biasa.
Aku.. gak kepingin memposisikan aku sebagai seorang pimpinan disana. aku ngerasa sangat gak nyaman dengan itu sebenernya. Aku lebih nyaman mereka menganggap aku kakak, atau ibu, karena pautan usia jam terbang yang sudah aku jalani. Tapi dinding pembatas itu selalu ada. Aku lebih nyaman kalau hubungan ini terjalin dengan pautan hati, berjuang karena Allah. Tapi ternyata gak mudah. Sekian tahun mereka terbentuk sebagai pekerja.
Aku sepertinya harus mulai melakukan perubahan dengan berbagai pendekatan pribadi, menyentuh hati. Tidak ada skenario Allah yang tidak baik dan indah. Kita semua dipertemukan dan disatukan dalam mengurus pondok pesantren ini, sesuatu yang dari hati akan menyentuh hati, maka mulailah melakukan semuanya dengan hati agar dapat menyentuh hati anak - anak didik agar mereka dapat bertumbuh dengan baik sebagai penerus generasi Islam yang punya hati dan bermanfaat bagi ummat.
Ini tantangan berat... peluang melakukan perubahan. semoga Allah mudahkan, Allah Ridhoi
#hari7
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
BUNDA SAYANG TANTANGAN LEVEL 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF #6
Project hari ke 5 :Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai bagian masyarakat
Ahaa... soal yang satu ini sebenernya udah jatuh bangun diusahakan. Aku sadari banget, menikah muda dengan kondisi waktu itu usia baru 20 tahun dengan kesibukan berkarir sambil kuliah dan mengurus rumah tangga itu rasanya luar biasa. Hampir gak ada waktu aku untuk berinteraksi dengan masyarakat terutama lingkungan rumah.
Dalam 3 tahun belakangan ini aku gak pernah hadir arisan RT karena jadwalnya gak pernah klop dengan jadwal ku. Sementara pulang ke rumah yang cuma satu atau dua hari dalam seminggu gak memungkinkan aku keluar rumah buat berinteraksi karena udah sibuk banget urusan bebenah di dalam rumah.
Aku sering kali ngerasa bersalah sih, ketika di senggang waktu mendengar radio atau Youtoube soal hak tetangga.... aku... nyaris mengabaikan itu semua. Aku gak tau lagi gimana caranya ngebagi waktu ku. Tiga tahun belakangan ini hubungan sosialku dengan orang orang disekeliling terbatas sekali, rasanya waktu selalu kurang. selalu ada hal yang belum beres dikerjakan dan dikejar kejar waktu.
Aku gak tau apa yang salah dengan diriku, rasanya aktifitasku bukan aktifitas orang penting. Tapi begitu banyak aktifitas yang menyita waktuku yang membuatku banyak kehilangan waktu untuk menikmati sosial community yang seharusnya itu juga bagian dari prioritas....
Mungkin aku harus cari cara ya... bagaimana diantara waktu yang sempit itu aku bisa ambil sedikit bagian untuk bisa sedikit berinteraksi dengan lingkungan ku. Karena yang terburuk... tetangga ku meninggal sudah berbulan bulan pun aku sampai gak tau...
Pikir...pikir... pikir.... ya Allah.. banyak banget yang musti di tata ulang.... semoga Allah mudahkan dan ridhoi
#hari6
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
BUNDA SAYANG TANTANGAN LEVEL 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF #5
Project hari ke 4 : Mau apa sih sebagai seorang ibu di sisa hidupku?
Abis berapa hari ngejar penyelesaian tugas yang deadline gara gara ditinggal training jadi keteteran menunaikan kewajiban setoran komprod bunsay.
Aku jadi ibu, jauh banget dari kondisi ibu ideal. Belakangan komunikasiku dengan anak anak buruk banget.
Sepertinya aku harus belajar untuk berkomunikasi asertif dengan anak anak dan belajar untuk mendengar lebih banyak.
Anak anak sekarang sudah besar, kakak sudah masuk jenjang kedewasaan dan adek sudah mulai mengalami fase remaja. Mereka sedang belajar menata hidup mereka, berkomunikasi dengan lingkungan, belajar untuk menerima dan diterima lingkungan. Maka gaya komunikasiku juga sepertinya sudah harus berubah.
Mereka bukan lagi my little boy... yang selalu mengidolakan ibunya. Mereka mulai asik dengan segala kesibukan dan petualangan hidup mereka. Satu aja yang aku pinta, semoga Aqidah dan Akhlak mereka tetap terjaga dalam bingkai islam yang selama ini telah ditata.
Hmmm.... gak mudah mencari model komunikasi yang pas dengan 2 anak lanang ini sekarang, sepertinya yang satu sedang merasa dirinya sudah dewasa dan mulai tidak suka di tanya tanya. Sedang yang satu lagi, sedang asik dengan belajar "aku atas dirinya", sepertinya sekarang coba duduk manis dan mengamati dulu...
Okee.. kita coba cari cari model komunikasi yang pas buat keduanya ASAP yaaa...
Bismillah....
#hari5
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Senin, 01 April 2019
BUNDA SAYANG TANTANGAN LEVEL 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF #4
Project hari ke 3 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai istri, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Hmmmm.... apa sebenernya yang diinginkan sebagai istri? Jujur aja.. sebagai istri masih jauh banget dari katagori ideal. Hahaha... semakin bertambah umur, idealisme sebagai seorang istri pada diri saya kok malah makin kendor..... Tapi ekspektasi sama pasangan ternyata gak kendor kendor....
Kok bisa kendor? Sejujurnya sih macam dismotivasi sih yaa... karena udah nyoba macem macem cara ternyata belum effektif juga hasilnya.... mulai soal komunikasi, kebiasaan, cara mendidik anak, tugas dan tanggung jawab... kadang rasa lelah bertumpuk tumpuk.
Terus sekarang mau apa Er? Mau gimana? Hmmmm.... rasanya hati dan pikiran bener bener lagi capek...
Sepertinya untuk yang satu ini perlu waktu buat perenungan panjang dan menenangkan pikiran.....
#hari 4
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai istri, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Hmmmm.... apa sebenernya yang diinginkan sebagai istri? Jujur aja.. sebagai istri masih jauh banget dari katagori ideal. Hahaha... semakin bertambah umur, idealisme sebagai seorang istri pada diri saya kok malah makin kendor..... Tapi ekspektasi sama pasangan ternyata gak kendor kendor....
Kok bisa kendor? Sejujurnya sih macam dismotivasi sih yaa... karena udah nyoba macem macem cara ternyata belum effektif juga hasilnya.... mulai soal komunikasi, kebiasaan, cara mendidik anak, tugas dan tanggung jawab... kadang rasa lelah bertumpuk tumpuk.
Terus sekarang mau apa Er? Mau gimana? Hmmmm.... rasanya hati dan pikiran bener bener lagi capek...
Sepertinya untuk yang satu ini perlu waktu buat perenungan panjang dan menenangkan pikiran.....
#hari 4
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Minggu, 31 Maret 2019
BUNDA SAYANG TANTANGAN LEVEL 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF #3
Project hari ke 2
Waktunya bicara sama diri sendiri, untuk tahu... apa sih sebenernya yang saya inginkan di sisa hidup saya atas diri saya sebagai seorang anak.
Jadi anak yang berbakti dan shalihah pastinya. Berbakti dan shalihah itu implementasinya seperti apa?
Coba menghadirkan sosok papa di depan, Papa gak seperti papa yang lain yang mereka sempat menua, merasakan belaian tangan keriput, wajah yang berkerut, rambut putih dan badan yang mulai gemetar. Papa gak sempat ke fase itu karena papa meninggal di usia muda, dalam keadaan gagah dan bugar. Tidak banyak kenanganku tentang dia, Tiba tiba aja ada sedih menyeruak dalam hati.... papa adalah orang yang pertama yang membisikan adzan di telinga ketika aku lahir, papa adalah orang pertama yang mengenalkan Allah pada tubuh dan pikiran ini. Apa yang sudah aku lakukan buat papa? Papa meninggal ketika aku berusia 14 tahun. Belum lagi aku sempat membahagiakan dan berbakti pada papa itu yang ada dipikiranku. Tapi... ternyata berbakti dan membahagiakan dalam doa sehari haripun kadang terlepas. Lelaki yang pertama kali melantunkan adzan itu jarang sekali aku doakan diantara adzan dan iqomah bahkan untuk ingat ketika adzan berkumandang pun jarang sekali terjadi.... berdoa hanya dikala ingat.... anak shalihah dan berbakti????? Hmmm... masih jauh sekali..
Coba menghadirkan mama di hadapan. Tubuhnya yang semakin renta. Matanya yang tidak lagi bening, lengannya yang mulai gemetar, kerut di wajahnya semakin hari semakin bertambah. Beliau sosok yang begitu luar biasa tangguh, membesarkan 6 orang anaknya nyaris seorang diri. Aku tahu mama wanita baik, aku tahu mama wanita hebat... tapi.. entah kenapa dia tidak menjadi sosok yang aku rindukan, walau aku berusaha setengah mati untuk bisa melakukan itu. Tapi ada sisi dalam diriku yang begitu antipati pada mama.
Mama wanita yang luar biasa, aku tahu dia sangat mencintai anak - anaknya, aku tahu galak dan caranya mendidik anak begitu keras karena lelahnya menjalani ujian dan tempaan hidup. Separuh hatiku mengakui kebenaran dan kebaikan itu. Tapi sayangnya separuh hatiku belum bisa menerima itu sampai sekarang.
Aku bertanya pada diriku, mau sampai kapan akan aku simpan rasa sakit, malu dan kecewa ini? Sampai kapan? Bukankah dia seorang sosok ibu yang begitu luar biasa? Yang telah menumpahkan keringat dan air matanya untuk menghidupimu Er?
Aku sadar itu benar.... tapi luka itu tetap ada. Tak terasa, tergenang air mata. Kenapa sulit sekali menerima itu semua? Bukankah sekarang aku pun seorang ibu? Bukankah akupun tidak bisa jadi ibu yang sempurna? Bukankah akupun mungkin melukai hati anak anak ku? Bagaimana kalau anak anakku juga tidak mampu memaafkan aku? Bagaimana kalau anak anakku juga tidak bisa menerima kekuranganku?
Apa yang harus aku lakukan untuk menghapus semua luka? Apa yang aku harus aku lakukan agar muncul kecintaan dan kerinduan yang dalam dan rasa bakti yang tulus bukan karena sekedar menggugurkan kewajiban.
Ya Rabb, mampukan aku membersihkan ingatan buruk ku, putihkan hatiku, tumbuhkan rasa cintaku dan mampukan aku memaafkan semua kejadian kejadian buruk itu.
Sebentar lagi Ramadhan, semoga semua bisa terselesaikan dengan baik.
#hari 3
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Waktunya bicara sama diri sendiri, untuk tahu... apa sih sebenernya yang saya inginkan di sisa hidup saya atas diri saya sebagai seorang anak.
Jadi anak yang berbakti dan shalihah pastinya. Berbakti dan shalihah itu implementasinya seperti apa?
Coba menghadirkan sosok papa di depan, Papa gak seperti papa yang lain yang mereka sempat menua, merasakan belaian tangan keriput, wajah yang berkerut, rambut putih dan badan yang mulai gemetar. Papa gak sempat ke fase itu karena papa meninggal di usia muda, dalam keadaan gagah dan bugar. Tidak banyak kenanganku tentang dia, Tiba tiba aja ada sedih menyeruak dalam hati.... papa adalah orang yang pertama yang membisikan adzan di telinga ketika aku lahir, papa adalah orang pertama yang mengenalkan Allah pada tubuh dan pikiran ini. Apa yang sudah aku lakukan buat papa? Papa meninggal ketika aku berusia 14 tahun. Belum lagi aku sempat membahagiakan dan berbakti pada papa itu yang ada dipikiranku. Tapi... ternyata berbakti dan membahagiakan dalam doa sehari haripun kadang terlepas. Lelaki yang pertama kali melantunkan adzan itu jarang sekali aku doakan diantara adzan dan iqomah bahkan untuk ingat ketika adzan berkumandang pun jarang sekali terjadi.... berdoa hanya dikala ingat.... anak shalihah dan berbakti????? Hmmm... masih jauh sekali..
Coba menghadirkan mama di hadapan. Tubuhnya yang semakin renta. Matanya yang tidak lagi bening, lengannya yang mulai gemetar, kerut di wajahnya semakin hari semakin bertambah. Beliau sosok yang begitu luar biasa tangguh, membesarkan 6 orang anaknya nyaris seorang diri. Aku tahu mama wanita baik, aku tahu mama wanita hebat... tapi.. entah kenapa dia tidak menjadi sosok yang aku rindukan, walau aku berusaha setengah mati untuk bisa melakukan itu. Tapi ada sisi dalam diriku yang begitu antipati pada mama.
Mama wanita yang luar biasa, aku tahu dia sangat mencintai anak - anaknya, aku tahu galak dan caranya mendidik anak begitu keras karena lelahnya menjalani ujian dan tempaan hidup. Separuh hatiku mengakui kebenaran dan kebaikan itu. Tapi sayangnya separuh hatiku belum bisa menerima itu sampai sekarang.
Aku bertanya pada diriku, mau sampai kapan akan aku simpan rasa sakit, malu dan kecewa ini? Sampai kapan? Bukankah dia seorang sosok ibu yang begitu luar biasa? Yang telah menumpahkan keringat dan air matanya untuk menghidupimu Er?
Aku sadar itu benar.... tapi luka itu tetap ada. Tak terasa, tergenang air mata. Kenapa sulit sekali menerima itu semua? Bukankah sekarang aku pun seorang ibu? Bukankah akupun tidak bisa jadi ibu yang sempurna? Bukankah akupun mungkin melukai hati anak anak ku? Bagaimana kalau anak anakku juga tidak mampu memaafkan aku? Bagaimana kalau anak anakku juga tidak bisa menerima kekuranganku?
Apa yang harus aku lakukan untuk menghapus semua luka? Apa yang aku harus aku lakukan agar muncul kecintaan dan kerinduan yang dalam dan rasa bakti yang tulus bukan karena sekedar menggugurkan kewajiban.
Ya Rabb, mampukan aku membersihkan ingatan buruk ku, putihkan hatiku, tumbuhkan rasa cintaku dan mampukan aku memaafkan semua kejadian kejadian buruk itu.
Sebentar lagi Ramadhan, semoga semua bisa terselesaikan dengan baik.
#hari 3
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Jumat, 29 Maret 2019
BUNDA SAYANG TANTANGAN LEVEL 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF #2
Project hari ke 1 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini untuk diri sendiri, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Nanya apa diri sendiri yang diinginkan dalam sisa hidup ini untuk diri sendiri. Tapi yang muncul jawabannya sangat normatif, bahagia, sukses, taat ibadah, mati dalam keadaan husnul khotimah.
Bahagia? Bahagia yang seperti apa? Katagori bahagia yang bagaimana? Hidup tanpa masalah? Hidup yang berkecukupan? Kesuksean macam apa? keluasan ibadah yang seperti apa?
42 tahun berjalan, apakah hidup ini belum bahagia? 10 tahun kehidupan pertama, semua seperti kelebatan mimpi ketika berusaha diingat. Erny kecil seperti apa hidupnya? Masa balita seperti apa? Semua nampak samar.... yang saya ingat hanya sebuah bantal kecil lusuh yang dibawa kemana - mana. Masa kecil di sekolah guru yang lebih memperhatikan anak anak orang berpunya.
Masa kecil yang mulai mengenal manis pahit kehidupan, hidup yang jauh dari berkecukupan, ketidak adilan kondisi sosial yang anti pendatang dan diskriminasi pada para perantau. Membuat batas kecerian masa kanak - kanak. Diskriminasi atas materi, diskriminasi atas status sosial. Diusia itu melihat betapa hidup perlu pergulatan yang hebat. Melihat sosok ibu yang begitu tangguh membesarkan 6 anaknya, walau harus bertangan besi dan gejolak emosi yang tak terkendali. Merasakan sensasi ketegangan, rasa takut, cemas akan hari esok. Diusia itu, mulai berlari kecil menjajakan kue untuk membantu wonderwoman tercinta bertahan hidup sehari demi sehari. Hidup dalam cemoohan, menjadi second layer social community, yang diabaikan dan diperlakukan tidak adil di berbagai kesempatan. Apakah saat itu saya tidak bahagia??? Ternyata tidak juga... banyak kebahagiaan juga disana. Kenangan - kenangan manis penuh tawa di tengah terseok di kehidupan yang perih ternyata tetap ada.
10 Tahun kehidupan ke dua. Dengan rasa minder dan paham segala keterbatasan yang ada, berusaha untuk bisa sejajar sama dengan yang lain. Berkompetisi untuk berusaha mendapatkan penghidupan lebih baik. Walau diiringi begitu banyak ujian yang kurang mengenakan??? Apa tidak bahagia?? Ternyata tidak juga. Banyak juga kenangan manis yang membahagiakan disana, walau mungkin saat itu dijalankan terasa perih dan duka.
10 Tahun kehidupan ke tiga, mulai menjadi seorang istri dan seorang ibu, wanita karir. Proses perubahan kehidupan ekstrim, penuh tekanan, penuh air mata. Kondisi kesehatan anak anak yang tidak sebaik anak lain, rumah tangga yang penuh ujian. Perih lelah mulai terasa, mendapat hadiah sakit Tumor syaraf, apakah menderita??? Ternyata tidak juga... ada banyak keindahan dan kebahagiaan juga di sana. Apakah materi adalah kunci kebahagiaan utama? Ternyata tidak juga. Ibadah keteteran karena fokus urusan dunia.... merasa bersalah? Iyaa.... tapi berulang ulang itu dilakukan.....
10 Tahun kehidupan ke empat sekarang, kondisi fisik semakin turun, keinginan hidup lebih tenang, ingin hidup tanpa terlalu banyak konflik, fokus bisa bermanfaat buat orang banyak. Hening, ingin punya banyak waktu untuk diri sendiri, memperbaiki diri, melakukan hal hal baik yang belum pernah saya lakukan. Melihat anak anak mengaktualisasikan diri mereka menjadi semakin positif sebagai generasi penerus yang tangguh dalam meimanan yang baik. Membagikan setiap ilmu yang bermanfaat. Ingin bisa menghafal alquran, memperdalam ilmu agama, perbaikan spiritual diri dimana semua bisa dilakukan karena Allah.
Apa aku bisa? Harus bisa... dimulai dengan mencoba bekerja sama dengan diri sendiri.
#hari1 2
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini untuk diri sendiri, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Nanya apa diri sendiri yang diinginkan dalam sisa hidup ini untuk diri sendiri. Tapi yang muncul jawabannya sangat normatif, bahagia, sukses, taat ibadah, mati dalam keadaan husnul khotimah.
Bahagia? Bahagia yang seperti apa? Katagori bahagia yang bagaimana? Hidup tanpa masalah? Hidup yang berkecukupan? Kesuksean macam apa? keluasan ibadah yang seperti apa?
42 tahun berjalan, apakah hidup ini belum bahagia? 10 tahun kehidupan pertama, semua seperti kelebatan mimpi ketika berusaha diingat. Erny kecil seperti apa hidupnya? Masa balita seperti apa? Semua nampak samar.... yang saya ingat hanya sebuah bantal kecil lusuh yang dibawa kemana - mana. Masa kecil di sekolah guru yang lebih memperhatikan anak anak orang berpunya.
Masa kecil yang mulai mengenal manis pahit kehidupan, hidup yang jauh dari berkecukupan, ketidak adilan kondisi sosial yang anti pendatang dan diskriminasi pada para perantau. Membuat batas kecerian masa kanak - kanak. Diskriminasi atas materi, diskriminasi atas status sosial. Diusia itu melihat betapa hidup perlu pergulatan yang hebat. Melihat sosok ibu yang begitu tangguh membesarkan 6 anaknya, walau harus bertangan besi dan gejolak emosi yang tak terkendali. Merasakan sensasi ketegangan, rasa takut, cemas akan hari esok. Diusia itu, mulai berlari kecil menjajakan kue untuk membantu wonderwoman tercinta bertahan hidup sehari demi sehari. Hidup dalam cemoohan, menjadi second layer social community, yang diabaikan dan diperlakukan tidak adil di berbagai kesempatan. Apakah saat itu saya tidak bahagia??? Ternyata tidak juga... banyak kebahagiaan juga disana. Kenangan - kenangan manis penuh tawa di tengah terseok di kehidupan yang perih ternyata tetap ada.
10 Tahun kehidupan ke dua. Dengan rasa minder dan paham segala keterbatasan yang ada, berusaha untuk bisa sejajar sama dengan yang lain. Berkompetisi untuk berusaha mendapatkan penghidupan lebih baik. Walau diiringi begitu banyak ujian yang kurang mengenakan??? Apa tidak bahagia?? Ternyata tidak juga. Banyak juga kenangan manis yang membahagiakan disana, walau mungkin saat itu dijalankan terasa perih dan duka.
10 Tahun kehidupan ke tiga, mulai menjadi seorang istri dan seorang ibu, wanita karir. Proses perubahan kehidupan ekstrim, penuh tekanan, penuh air mata. Kondisi kesehatan anak anak yang tidak sebaik anak lain, rumah tangga yang penuh ujian. Perih lelah mulai terasa, mendapat hadiah sakit Tumor syaraf, apakah menderita??? Ternyata tidak juga... ada banyak keindahan dan kebahagiaan juga di sana. Apakah materi adalah kunci kebahagiaan utama? Ternyata tidak juga. Ibadah keteteran karena fokus urusan dunia.... merasa bersalah? Iyaa.... tapi berulang ulang itu dilakukan.....
10 Tahun kehidupan ke empat sekarang, kondisi fisik semakin turun, keinginan hidup lebih tenang, ingin hidup tanpa terlalu banyak konflik, fokus bisa bermanfaat buat orang banyak. Hening, ingin punya banyak waktu untuk diri sendiri, memperbaiki diri, melakukan hal hal baik yang belum pernah saya lakukan. Melihat anak anak mengaktualisasikan diri mereka menjadi semakin positif sebagai generasi penerus yang tangguh dalam meimanan yang baik. Membagikan setiap ilmu yang bermanfaat. Ingin bisa menghafal alquran, memperdalam ilmu agama, perbaikan spiritual diri dimana semua bisa dilakukan karena Allah.
Apa aku bisa? Harus bisa... dimulai dengan mencoba bekerja sama dengan diri sendiri.
#hari1 2
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Langganan:
Postingan (Atom)