Habis merenungi materi Komunikasi Produktif, saya terpikir sepertinya sebelum melakukan komunikasi produktif dengan anak dan pasangan, sepertinya saya harus terlebih dahulu memperbaiki komunikasi dengan diri saya sendiri. Karena sepertinya saya sangat membutuhkan itu.
Jadi saat break training saya WA mba Vita buat nanya apakah boleh saya ambil tantangan komunikasi produktif nya saya ambil komunikasi produktif dengan diri saya sendiri, dan ternyata jawabannya bikin happy.... yeiiiyy.....
Oke Erny.... mulai hari ini kita bikin kontrak project yaaa....sekarang kita akan siapkan perencanaan program komunikasi produktif yang akan kita jalani 9 hari ke depan.
Maka seorang Erny harus komit menyiapkan waktu untuk berkomunikasi dengan diri Erny sendiri dan bekerja sama untuk bisa membantu diri sendiri mampu memiliki model komunikasi produktif dengan diri sendiri sehingga bisa melakukan komunikasi produktif dengan anak dan pasangan.
Project hari ke 1 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini untuk diri sendiri, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Project hari ke 2 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai anak, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Project hari ke 3 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai istri, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Project hari ke 4 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai seorang ibu, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Project hari ke 5 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai bagian masyarakat, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Project hari ke 6 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai seorang pimpinan, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Project hari ke 7 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai Pendidik , apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Project hari ke 8 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini sebagai Therapist , apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Project hari ke 9 :
Apa yang diinginkan dalam sisa hidup ini dalam berdakwah, apa kendalanya dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai yang diinginkan.
Okee.. bismillah semoga semua Allah mudahkan dan dimampukan untuk istiqomah.
#hari1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Belajar adalah passion saya dan membagikan ilmu yang saya miliki untuk memberikan kemanfaatan maksimal bagi orang banyak adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Proses belajar tanpa henti adalah sebuah fitrah, mengambil pelajaran adalah pilihan dan menyedekahkan ilmu yang bermanfaat adalah kesempatan.
Jumat, 29 Maret 2019
Kamis, 28 Maret 2019
Bunda Sayang Materi #1 : Komunikasi Produktif
Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata masalah gantilah dengan tantangan
Kata Susah gantilah dengan Menarik
Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.
KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.
Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang – Emosi kecil; bila Nalar pendek – Emosi tinggi
Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa –sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali– maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:
1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.
3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.
4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.
5. Kaidah: I’m responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.
KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?
a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)
b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.
c. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”
d. Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”
e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja sesuai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.
f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.
g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”
h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.
I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”
j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
“Masa sih cuma jalan segitu aja capek?”
✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata masalah gantilah dengan tantangan
Kata Susah gantilah dengan Menarik
Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.
KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.
Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang – Emosi kecil; bila Nalar pendek – Emosi tinggi
Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa –sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali– maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:
1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.
3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.
4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.
5. Kaidah: I’m responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.
KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?
a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)
b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.
c. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”
d. Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”
e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja sesuai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.
f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.
g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”
h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.
I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”
j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
“Masa sih cuma jalan segitu aja capek?”
✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 201 4
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari
Rabu, 27 Maret 2019
MANAJEMEN WAKTU KULIAH BUNSAY BATCH #5
NICE HOMEWORK PRA BUNSAY #2
Bimillahirrohmaanirrohiim.....
Sekarang waktunya kejar setoran NHW Pra Bunsay#2, Pembahasannya soal Manajemen Waktu Kuliah. Kuliah Bunsay ini memang perlu komitmen pada manajemen waktu dengan kuat. Dan buat saya ini gak mudah. Serius... jadi pengurus yayasan di Pondok Pesantren Ibad Arrahman itu kalau kata Pembinanya,gak boleh makan, gak boleh tidur dan gak boleh sakit...hehehe.... sakingnya kita itu bener bener mengabdikan diri 24 jam buat santri santri, buat membimbing guru guru, kontrol mobilitas pondok, urusan dengan pihak ke -3, hubungan dengan walisantri, belum lagi seabrek urusan negara lain.... drama banget yaa... hikk..hikk... tapi sebenernya sekarang itu semakin susah ngebagi waktunya karena ada jadwal - jadwal saya harus ke luar kota buat sekolah hypnoterapy klinis di sebuah institut di Surabaya, ada juga musti kursus Executive Class di John Robert Powers, juga ada training marketing yang jadwalnya padat, meeting meeting di luar kota dan gak jarang perubahan jadwal secara sinificant karena kondisi lapangan di pondok.
Walaupun yang namanya jadwal itu kondisi berubahnya sering banget, tapi yang namanya daily planner itu tetap penting dengan harapan waktu yang digunakan bisa dijalankan dengan optimal. Sebetulnya sudah beberapa kali dapat materi manajemen waktu, dulu jaman masih ngantor udah dapat training dari lembaga training PPM, di John Robert Powers juga dapat materi itu, sekarang dapat di Institut Ibu Profesional. Secara prinsip sebetulnya sama, semua juga mereferensikan kuadran sebagai penetapan prioritas dalam manajemen waktu. Di Kelas Bunsay Batch#5 ini pakai kuadran yang merujuk sebagai berikut :
Jadi, menurut mba Vita, Manajemen waktu kuliah bunda Sayang itu sebenernya SE-DER-HA-NA, yang rumit adalah jika tidak punya kandang waktu, dan menunda aneka to do list (langsung tepok jidat baca chatnya... )
Terlepas dari tipe seperti apakah kita, apakah tipe yang fleksible , atau tipe yang sangat komitmen dengan rencana yang dibuat, yang terpenting smua dimulai dari rencana.
Manajemen waktu khususnya untuk kuliah BunSay bisa dijalani dengan strategi :
List - Plan - Action - Re-check
Buat Listing kegiatan, Rencanakan kegiatan dalam "Kandang Waktu" atau yang biasa disebut time table yang telah ditetapkan, action, lalu check kembali. Evaluasi apakah penjadwalan tersebut cukup efektif atau perlu dilakukan perbaikan dan penjadwalan ulang. Lalu kembali lagi masuk ke point pertama (Listing Kegiatan)
Bagaimana caranya biar fokus pada rencana awal ditengah segala kompleksitas di keseharian? berikut rumusnya :
Oke beranjak ke tugas, intruksinya : silahkan membuat jadwal harian dan memasukan screen / gadget time di dalamnya. Atur strategi untuk menyelesaikan tugas BunSay Setiap Harinya. Misal dengan menginput setoran 10 hari dalam to do list jadwal harian. Daaaan... taraaaaa... ini hasilnya :
Alhamdulillah.... waktunya kejar tayang susulan NHW Pra Bunsay #3.... Semangatttttt...
NICE HOMEWORK PRA BUNSAY #2
Bimillahirrohmaanirrohiim.....
Sekarang waktunya kejar setoran NHW Pra Bunsay#2, Pembahasannya soal Manajemen Waktu Kuliah. Kuliah Bunsay ini memang perlu komitmen pada manajemen waktu dengan kuat. Dan buat saya ini gak mudah. Serius... jadi pengurus yayasan di Pondok Pesantren Ibad Arrahman itu kalau kata Pembinanya,gak boleh makan, gak boleh tidur dan gak boleh sakit...hehehe.... sakingnya kita itu bener bener mengabdikan diri 24 jam buat santri santri, buat membimbing guru guru, kontrol mobilitas pondok, urusan dengan pihak ke -3, hubungan dengan walisantri, belum lagi seabrek urusan negara lain.... drama banget yaa... hikk..hikk... tapi sebenernya sekarang itu semakin susah ngebagi waktunya karena ada jadwal - jadwal saya harus ke luar kota buat sekolah hypnoterapy klinis di sebuah institut di Surabaya, ada juga musti kursus Executive Class di John Robert Powers, juga ada training marketing yang jadwalnya padat, meeting meeting di luar kota dan gak jarang perubahan jadwal secara sinificant karena kondisi lapangan di pondok.
Walaupun yang namanya jadwal itu kondisi berubahnya sering banget, tapi yang namanya daily planner itu tetap penting dengan harapan waktu yang digunakan bisa dijalankan dengan optimal. Sebetulnya sudah beberapa kali dapat materi manajemen waktu, dulu jaman masih ngantor udah dapat training dari lembaga training PPM, di John Robert Powers juga dapat materi itu, sekarang dapat di Institut Ibu Profesional. Secara prinsip sebetulnya sama, semua juga mereferensikan kuadran sebagai penetapan prioritas dalam manajemen waktu. Di Kelas Bunsay Batch#5 ini pakai kuadran yang merujuk sebagai berikut :
Jadi, menurut mba Vita, Manajemen waktu kuliah bunda Sayang itu sebenernya SE-DER-HA-NA, yang rumit adalah jika tidak punya kandang waktu, dan menunda aneka to do list (langsung tepok jidat baca chatnya... )
Terlepas dari tipe seperti apakah kita, apakah tipe yang fleksible , atau tipe yang sangat komitmen dengan rencana yang dibuat, yang terpenting smua dimulai dari rencana.
Manajemen waktu khususnya untuk kuliah BunSay bisa dijalani dengan strategi :
List - Plan - Action - Re-check
Buat Listing kegiatan, Rencanakan kegiatan dalam "Kandang Waktu" atau yang biasa disebut time table yang telah ditetapkan, action, lalu check kembali. Evaluasi apakah penjadwalan tersebut cukup efektif atau perlu dilakukan perbaikan dan penjadwalan ulang. Lalu kembali lagi masuk ke point pertama (Listing Kegiatan)
Bagaimana caranya biar fokus pada rencana awal ditengah segala kompleksitas di keseharian? berikut rumusnya :
Oke beranjak ke tugas, intruksinya : silahkan membuat jadwal harian dan memasukan screen / gadget time di dalamnya. Atur strategi untuk menyelesaikan tugas BunSay Setiap Harinya. Misal dengan menginput setoran 10 hari dalam to do list jadwal harian. Daaaan... taraaaaa... ini hasilnya :
Alhamdulillah.... waktunya kejar tayang susulan NHW Pra Bunsay #3.... Semangatttttt...
ADAB MENUNTUT ILMU X CoC
NICE HOMEWORK PRA BUNSAY#1 KULIAH BUNSAY INSTITUT IBU PROFESIONAL
Setelah beberapa hari menunaikan ibadah di tanah suci, kembali ke Indonesia dengan mengalami jetleg yang lumayan butuh waktu untuk mengadaptasi kembali dengan waktu biologis di Indonesia. Dimulai dengan memfollow up segala pekerjaan yang terpending sekian lama, sambil bulak balik buka group BunSay#5 dan Group PeEr yang ternyata susah sekali buat mengejar ketertinggalan diskusi 3 minggu para bunda keren dan aktif di dua group tersebut. Tapi berusaha memenuhi komitmen awal untuk berusaha istiqomah menjalani kuliah BunSay ini, maka mulai hari ini bertekad buat mengejar ketertinggalan.
Dimulai dengan mengerjakan tugas pertama Nice Home Work (NHW) #1, pertama tama itu saya baca di group ada diskusinya di group Bunsay #5, lumayan seru diskusi materinya dibimbing Mba Vita, Bahwa Adab menuntut ilmu itu penting, karena tentu dalam menuntut ilmu, yang kita ingin adalah agar ilmu itu berkah untuk kehidupan kita.
Maka rumusnya : dengan beradab terhadap ilmu, sikap ini membuat semua ridho. Ridho itu membuat ilmu / aktifitas jadi berkah. Keberkahan itu membuat bahagia dan kebahagiaan itu membuat kita makin mulia.
Tetapi ketika perbuatan kita tidak beradab, maka akan membuat ada pihak yang tidak Ridho, membuat aktivitas / ilmu tidak berkah. Ketidak berkahan membuat hidup kita tidak bahagia, orang yang tidak bahagia, prosentase melakukan perbuatan tidak beradab lagi menjadi lebih besar.
Hmmm... asupan yang cukup bervitamin.
Lalu mengintip keseruan diskusi group PeEr terkait materi ini, Duuh diskusi santai yang asik, sambil diskusi sambil curcol dan diantara mereka ada juga yang harus mendadak break karena sambil ngurus anak. Luar biasa, memang gak mudah untuk seorang ibu mendapatkan cukup waktu mengupgrade diri, maka ketika kita memutuskan untuk mengikuti kuliah bunda sayang, kita harus benar benar sadar bahwa kemampuan manajemen waktu sangat diperlukan.
Mulailah sekarng waktunya saya menjawab satu persatu tugas NHW#1.
1. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?
Jawaban : Belajar itu adalah proses tiada henti sampai kita mati. Passion saya adalah Belajar. Membagikan ilmu yang saya miliki adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Proses belajar tanpa henti adalah sebuah fitrah, kesempatan belajar / mengambil pelajaran adalah pilihan dan menyedekahkan ilmu adalah kesempatan. Maka untuk menikmati kebahagiaan itu, saya perlu bekal ilmu yang tidak sedikit. Ilmu bunda Sayang menurut saya adalah ilmu yang sangat baik yang bisa saya gunakan bagi diri saya sendiri dan juga orang - orang di sekeliling saya. karena itu saya memutuskan untuk ikut serta dalam kuliah Bunda Sayang ini.
2. Strategi menuntut ilmu yang anda rencanakan di bidang tersebut?
Jawaban : Dengan mempelajari ilmu di Kelas Bunda Sayang, maka saya harus menata ulang jadwal kegiatan saya yang lumayan padat dan kadang berubah mendadak karena kegiatan saya sangat berkait dengan pihak ke3. Saya juga harus menambah waktu untuk membaca berbagai referensi baik buku, blog atau apapun terkait dengan materi Bunsay untuk menambah khasanah pengetahuan. Dan tentunya untuk bisa berbagi pengalaman dan ilmu, saya coba mencatat dan membagikannya di blog saya agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain.
3. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
Jawaban : Saya ini orangnya suka sekali berdiskusi, tapi alih alih diskusi kadang malah terpancing buat berdebat hehehe....karenanya saya harus belajar untuk menghargai pendapat orang lain. Selain itu saya juga harus giat, tekun dan konsisten atas segala konsekwensi yang muncul karena kegiatan kuliah Bunsay ini. Belajar dari ketertinggalan saya hingga hari ini, maka saya tidak boleh menunda apapun tugas kuliah Bunsay ini agar tidak semakin tertinggal jauh dari para ibu- ibu keren dan kece itu
Beralih ke Tugas Group, saya gak ikutan diskusinya sih... karena waktu itu masih di tanah Harom, tapi diskusi group PEER group 2 Bunsay#5 Sebagai berikut :
1. Bagaimana mengantisipasi kesibukan dan godaan agar komitmen mengikuti perkuliahan bisa berjalan dengan lancar dan baik.
Jawaban : Ketika memutuskan untuk mengikuti kuliah bunda sayang, sebisa mungkin sejak awal kita sadar bahwa menjadi mahasiswi disini pasti akan mengambil waktu kita dalam aktivitas sehari-hari menjadi istri juga ibu. Untuk itu sebaiknya kita melakukan antisipasi diri dengan melakukan manajemen waktu dan energi yang sudah dipelajari di kelas matrikulasi.
Godaan yang paling sering datang di kalangan ibu-ibu, biasanya kondisi anak yang unpredictable, entah tiba-tiba sakit atau sedang ingin terus ditemani bermain atau malah kita yang sakit karena kelelahan. Jadi antisipasi terkait manajemen waktu dan energi bisa dilakukan dengan segera mengerjakan tugas-tugas yang ada sebelum hal-hal tak terprediksi datang dan malah menjadi alasan kita untuk telat atau bahkan tidak mengumpulkan tugas.
Kami pun percaya, bahwa semakin diakhirkan penyelesaian tugas, semakin dekat deadline dan terburu-buru, semakin tidak optimal pengerjaannya.
2. Jika memiliki pendapat yang berbeda dengan apa yang disampaikan fasilitator bagaimana cara menyampaikannya dan setelah disampaikan tidak mendapat titik temu, bagaimana menyikapinya?
Jawaban : Setiap kepala pasti memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Berbeda pendapat merupakan suatu keniscayaan, yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaiannya.
Jika kami memiliki pendapat berbeda, sebisa mungkin kami tetap sampaikan di dalam grup namun dalam bahasa yang sopan. Jika setelah pendapat kami disampaikan masih juga belum ada titik temu, kami akan mengambil kesimpulan bahwa tiap orang memang bisa saja memiliki pendapat atau keyakinan yang berbeda karena memiliki latar belakang keseharian yang juga berbeda-beda. Jadi sebisa mungkin kami akan tetap menghargai pendapatnya meski kami tetap meyakini pendapat kami pribadi.
Menurut kami, penting untuk tetap mengajukan pendapat di dalam grup, karena dengan begitu, kita mungkin bisa mendapat banyak insight terkait pendapat kita tadi. Bisa jadi kita berubah pikiran atau justru semakin kuat meyakini pendapat kita.
Kalaupun pada akhirnya suatu keputusan diambil tidak berdasarkan pendapat kita, its ok. Hidup dengan banyak orang, harus banyak-banyak lapang dada. Dari perbedaan pendapat juga kita bisa mendapatkan sudut pandang yg berbeda
3. Cara apa yang kita lakukan untuk berbagi kebahagiaan, manfaat dan hikmah yang didapat selama perkuliahan kepada keluarga, teman dan Lingkungan?
Jawaban : Mempraktekkan ilmu satu persatu dalam setiap lini keseharian hingga menjadi kebiasaan dan karakter dalam diri.
Pertama berbagi ilmu dulu dengan suami. Kita harus berubah dulu jadi lebih baik hingga mereka merasakan perubahan dan energi positif kita dari semua ilmu yang kita pelajari. Perlihatkan perubahan yang kita lakukan setelah belajar di kelas ini. Sehingga mereka yakin disini bisa jadi salah satu tempat untuk belajar menjadi ibu, istri dan pribadi yang lebih baik.
Jika merasakan manfaat dari materi dan tantangan bunda sayang, kami akan dengan senang hati membagikannya kepada kerabat terutama dalam bentuk sharing di media sosial. Jika ada ibu lain dalam lingkaran menanyakan permasalah pengasuhan yang sedang dialaminya, sebisa mungkin membantu dengan memberikan informasi sesuai dengan ilmu yang telah kita dapat di kelas ini, tentunya dengan cara-cara yang baik tanpa terkesan menggurui.
4. Bagaimana tanggapan kita terhadap teman yang mundur di tengah jalan, cuti, bahkan remedial?
Jawaban : Setiap orang yang mendaftar kelas bunda sayang sebetulnya sudah punya kesungguhan yang besar untuk mengikuti kelas ini, apalagi dengan seleksi yang lebih ketat sekarang ini bahkan dengan mengerjakan essay terlebih dahulu. Hanya saja, kadang kita lupa bahwa yang kita rencankan bisa saja tidak sejalan dengan yang Allah qodarkan. Menurut kami, pasti ada alasan cukup penting yang membuat seorang mahasiswi bunsay memutuskan untuk cuti.
Sebisa mungkin tetap husnudzon terhadap peserta tersebut dan melakukan pendekatan personal. Bila memungkinkan, dibantu menyelesaikan kendala yang dihadapi peserta tersebut.
Saling support, kerjasama, saling membantu, saling perduli sehingga proses belajar dilalui bersama sama terasa tidak berat jadilah terasa ringan dan menyenangkan.
Selesai sudah pembahasan NHW #1 ini walaupun sebenernya pinginnya lebih baik lagi, tapi apa daya tugas tugas berikutnya yang tertinggal dan tugas tugas sebagai pengurus yayasan serta ibu rumah tangga sudah ngantri nunggu sentuhan. Semoga bisa istiqomah dan lebih baik lagi dan semoga juga memberi manfaat buat yang membaca.... Aamiin
NICE HOMEWORK PRA BUNSAY#1 KULIAH BUNSAY INSTITUT IBU PROFESIONAL
Setelah beberapa hari menunaikan ibadah di tanah suci, kembali ke Indonesia dengan mengalami jetleg yang lumayan butuh waktu untuk mengadaptasi kembali dengan waktu biologis di Indonesia. Dimulai dengan memfollow up segala pekerjaan yang terpending sekian lama, sambil bulak balik buka group BunSay#5 dan Group PeEr yang ternyata susah sekali buat mengejar ketertinggalan diskusi 3 minggu para bunda keren dan aktif di dua group tersebut. Tapi berusaha memenuhi komitmen awal untuk berusaha istiqomah menjalani kuliah BunSay ini, maka mulai hari ini bertekad buat mengejar ketertinggalan.
Dimulai dengan mengerjakan tugas pertama Nice Home Work (NHW) #1, pertama tama itu saya baca di group ada diskusinya di group Bunsay #5, lumayan seru diskusi materinya dibimbing Mba Vita, Bahwa Adab menuntut ilmu itu penting, karena tentu dalam menuntut ilmu, yang kita ingin adalah agar ilmu itu berkah untuk kehidupan kita.
Maka rumusnya : dengan beradab terhadap ilmu, sikap ini membuat semua ridho. Ridho itu membuat ilmu / aktifitas jadi berkah. Keberkahan itu membuat bahagia dan kebahagiaan itu membuat kita makin mulia.
Tetapi ketika perbuatan kita tidak beradab, maka akan membuat ada pihak yang tidak Ridho, membuat aktivitas / ilmu tidak berkah. Ketidak berkahan membuat hidup kita tidak bahagia, orang yang tidak bahagia, prosentase melakukan perbuatan tidak beradab lagi menjadi lebih besar.
Hmmm... asupan yang cukup bervitamin.
Lalu mengintip keseruan diskusi group PeEr terkait materi ini, Duuh diskusi santai yang asik, sambil diskusi sambil curcol dan diantara mereka ada juga yang harus mendadak break karena sambil ngurus anak. Luar biasa, memang gak mudah untuk seorang ibu mendapatkan cukup waktu mengupgrade diri, maka ketika kita memutuskan untuk mengikuti kuliah bunda sayang, kita harus benar benar sadar bahwa kemampuan manajemen waktu sangat diperlukan.
Mulailah sekarng waktunya saya menjawab satu persatu tugas NHW#1.
1. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?
Jawaban : Belajar itu adalah proses tiada henti sampai kita mati. Passion saya adalah Belajar. Membagikan ilmu yang saya miliki adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Proses belajar tanpa henti adalah sebuah fitrah, kesempatan belajar / mengambil pelajaran adalah pilihan dan menyedekahkan ilmu adalah kesempatan. Maka untuk menikmati kebahagiaan itu, saya perlu bekal ilmu yang tidak sedikit. Ilmu bunda Sayang menurut saya adalah ilmu yang sangat baik yang bisa saya gunakan bagi diri saya sendiri dan juga orang - orang di sekeliling saya. karena itu saya memutuskan untuk ikut serta dalam kuliah Bunda Sayang ini.
2. Strategi menuntut ilmu yang anda rencanakan di bidang tersebut?
Jawaban : Dengan mempelajari ilmu di Kelas Bunda Sayang, maka saya harus menata ulang jadwal kegiatan saya yang lumayan padat dan kadang berubah mendadak karena kegiatan saya sangat berkait dengan pihak ke3. Saya juga harus menambah waktu untuk membaca berbagai referensi baik buku, blog atau apapun terkait dengan materi Bunsay untuk menambah khasanah pengetahuan. Dan tentunya untuk bisa berbagi pengalaman dan ilmu, saya coba mencatat dan membagikannya di blog saya agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain.
3. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
Jawaban : Saya ini orangnya suka sekali berdiskusi, tapi alih alih diskusi kadang malah terpancing buat berdebat hehehe....karenanya saya harus belajar untuk menghargai pendapat orang lain. Selain itu saya juga harus giat, tekun dan konsisten atas segala konsekwensi yang muncul karena kegiatan kuliah Bunsay ini. Belajar dari ketertinggalan saya hingga hari ini, maka saya tidak boleh menunda apapun tugas kuliah Bunsay ini agar tidak semakin tertinggal jauh dari para ibu- ibu keren dan kece itu
Beralih ke Tugas Group, saya gak ikutan diskusinya sih... karena waktu itu masih di tanah Harom, tapi diskusi group PEER group 2 Bunsay#5 Sebagai berikut :
1. Bagaimana mengantisipasi kesibukan dan godaan agar komitmen mengikuti perkuliahan bisa berjalan dengan lancar dan baik.
Jawaban : Ketika memutuskan untuk mengikuti kuliah bunda sayang, sebisa mungkin sejak awal kita sadar bahwa menjadi mahasiswi disini pasti akan mengambil waktu kita dalam aktivitas sehari-hari menjadi istri juga ibu. Untuk itu sebaiknya kita melakukan antisipasi diri dengan melakukan manajemen waktu dan energi yang sudah dipelajari di kelas matrikulasi.
Godaan yang paling sering datang di kalangan ibu-ibu, biasanya kondisi anak yang unpredictable, entah tiba-tiba sakit atau sedang ingin terus ditemani bermain atau malah kita yang sakit karena kelelahan. Jadi antisipasi terkait manajemen waktu dan energi bisa dilakukan dengan segera mengerjakan tugas-tugas yang ada sebelum hal-hal tak terprediksi datang dan malah menjadi alasan kita untuk telat atau bahkan tidak mengumpulkan tugas.
Kami pun percaya, bahwa semakin diakhirkan penyelesaian tugas, semakin dekat deadline dan terburu-buru, semakin tidak optimal pengerjaannya.
2. Jika memiliki pendapat yang berbeda dengan apa yang disampaikan fasilitator bagaimana cara menyampaikannya dan setelah disampaikan tidak mendapat titik temu, bagaimana menyikapinya?
Jawaban : Setiap kepala pasti memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Berbeda pendapat merupakan suatu keniscayaan, yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaiannya.
Jika kami memiliki pendapat berbeda, sebisa mungkin kami tetap sampaikan di dalam grup namun dalam bahasa yang sopan. Jika setelah pendapat kami disampaikan masih juga belum ada titik temu, kami akan mengambil kesimpulan bahwa tiap orang memang bisa saja memiliki pendapat atau keyakinan yang berbeda karena memiliki latar belakang keseharian yang juga berbeda-beda. Jadi sebisa mungkin kami akan tetap menghargai pendapatnya meski kami tetap meyakini pendapat kami pribadi.
Menurut kami, penting untuk tetap mengajukan pendapat di dalam grup, karena dengan begitu, kita mungkin bisa mendapat banyak insight terkait pendapat kita tadi. Bisa jadi kita berubah pikiran atau justru semakin kuat meyakini pendapat kita.
Kalaupun pada akhirnya suatu keputusan diambil tidak berdasarkan pendapat kita, its ok. Hidup dengan banyak orang, harus banyak-banyak lapang dada. Dari perbedaan pendapat juga kita bisa mendapatkan sudut pandang yg berbeda
3. Cara apa yang kita lakukan untuk berbagi kebahagiaan, manfaat dan hikmah yang didapat selama perkuliahan kepada keluarga, teman dan Lingkungan?
Jawaban : Mempraktekkan ilmu satu persatu dalam setiap lini keseharian hingga menjadi kebiasaan dan karakter dalam diri.
Pertama berbagi ilmu dulu dengan suami. Kita harus berubah dulu jadi lebih baik hingga mereka merasakan perubahan dan energi positif kita dari semua ilmu yang kita pelajari. Perlihatkan perubahan yang kita lakukan setelah belajar di kelas ini. Sehingga mereka yakin disini bisa jadi salah satu tempat untuk belajar menjadi ibu, istri dan pribadi yang lebih baik.
Jika merasakan manfaat dari materi dan tantangan bunda sayang, kami akan dengan senang hati membagikannya kepada kerabat terutama dalam bentuk sharing di media sosial. Jika ada ibu lain dalam lingkaran menanyakan permasalah pengasuhan yang sedang dialaminya, sebisa mungkin membantu dengan memberikan informasi sesuai dengan ilmu yang telah kita dapat di kelas ini, tentunya dengan cara-cara yang baik tanpa terkesan menggurui.
4. Bagaimana tanggapan kita terhadap teman yang mundur di tengah jalan, cuti, bahkan remedial?
Jawaban : Setiap orang yang mendaftar kelas bunda sayang sebetulnya sudah punya kesungguhan yang besar untuk mengikuti kelas ini, apalagi dengan seleksi yang lebih ketat sekarang ini bahkan dengan mengerjakan essay terlebih dahulu. Hanya saja, kadang kita lupa bahwa yang kita rencankan bisa saja tidak sejalan dengan yang Allah qodarkan. Menurut kami, pasti ada alasan cukup penting yang membuat seorang mahasiswi bunsay memutuskan untuk cuti.
Sebisa mungkin tetap husnudzon terhadap peserta tersebut dan melakukan pendekatan personal. Bila memungkinkan, dibantu menyelesaikan kendala yang dihadapi peserta tersebut.
Saling support, kerjasama, saling membantu, saling perduli sehingga proses belajar dilalui bersama sama terasa tidak berat jadilah terasa ringan dan menyenangkan.
Selesai sudah pembahasan NHW #1 ini walaupun sebenernya pinginnya lebih baik lagi, tapi apa daya tugas tugas berikutnya yang tertinggal dan tugas tugas sebagai pengurus yayasan serta ibu rumah tangga sudah ngantri nunggu sentuhan. Semoga bisa istiqomah dan lebih baik lagi dan semoga juga memberi manfaat buat yang membaca.... Aamiin
Rabu, 08 Maret 2017
Tahukah nak, Aku ibumu
Sejak roh mu ditiupkan ke rahim ibu, saat itulah perjalanan hidupmu berjalan dan skenario hidupmu berlaku
Ketika kamu terlahir di dunia, terlepas dari tali pusat ibu, maka saat itupun sebagai seorang ibu aku melepasmu dalam ombang ambing kehidupan dunia. Airmata, tawa, sakit, suka, duka, perih dan bahagia akan kamu rasakan dalam hidup.
Tahukah nak, aku ibumu, orang yang susah payah mengandung dan membawamu kemana-mana 9 bulan didalam perutnya, tak peduli lelah dan sesak, tak peduli badan terasa tak enak, cinta itu terus dan terus bertumbuh kepadamu.
Tahukah nak, aku ibumu, menahan rasa sakit dan lelah bahkan bertaruh nyawa melahirkanmu ke dunia, demi dapat memeluk dan mendekapmu.
Tahukah nak, aku ibumu, walau kelak usiamu renta bagiku kau tetaplah bayi kecilku yang selalu kugendong dan ku dekap dengan pandangan mata penuh cinta dan doa.
Tahukah nak, aku ibumu, yang selalu ingin hidupmu hanya dipenuhi tawa, suka dan bahagia. Aku rela menebus airmata, rasa sakit, duka dan perihmu dengan kebahagiaanku. Karena hidupku tidak lagi bahagia begitu kulihat ada gurat luka di bening matamu.
Tahukah nak, aku ibumu, yang ketika kesulitan dan kelelahan menerpa hidupmu, ibumu yang semakin tua ini selalu punya tenaga tanpa kenal lelah untuk membantumu, keluar dari kesulitan walau bahkan ketika itu harus menghinjak-injak harga diriku.
Tahukah kamu nak, aku ibumu, wanita yang sering kali dianggap lemah, tapi kamu harus percaya bahwa aku adalah ciptaan Tuhan yang paling kuat. Aku akan selalu kuat mendengar keluh kesahmu, aku akan selalu kuat untuk mendukungmu, aku akan selalu kuat mendorongmu, aku akan selalu kuat mendoakanmu siang malam, demi segaris senyummu...
Tahukah kamu nak, aku ibumu, yang walau dalam hidupku begitu banyak keterbatasan, tapi kecintaan dan kasih sayangku padamu membuatku mampu melewati segala batas untuk terus mencintaimu...
Tahukah kamu nak, aku ibumu, orang yang akan merasakan sakit yang lebih sakit ketika kamu didzalimi, disia-siakan, dihinakan, tapi aku selalu hadir selalu bersabar di depanmu
Tahukah kamu nak, aku ibumu, orang yang merasa paling gagal ketika kamu menemui kegagalan, tapi aku selalu mampu berdiri dengan tegar dihadapanmu
Tahukah kamu nak, aku ibumu, seorang wanita yang hanya berharap memelukmu, menciummu, dan berkata, kamu lah penebus surga dunia dan akhiratmu...
Tahukah kamu nak, aku ibumu, yang mungkin tidak selalu ada disamping mu dan mendekapmu, tapi doaku akan selalu ada untukmu memeluk dan merengkuhmu.. dalam susah senang hidupmu, mencintaimu di dunia hingga kelak dilangit ke 7
Nak.. Aku ibumu....satu-satunya wanita yang telah membuktikan bahwa aku rela melepaskan kehidupan ini untukmu, adahkah kamu temukan cinta manusia yang lebih besar dari aku?
Catatan hatiku, untukmu anak-anakku @ErnydarIrfan - http://ernydar-irfan.blogspot.co.id/
Senin, 19 Juli 2010
Jangan Umbar Amarahmu
Salah satu sifat manusia yang sangat berbahaya adalah sifat amarahnya.Jika amarah telah merasuk sukma maka seseorang akan nekad melakukan apa saja demi melampiaskan amarahnya tanpa pernah memikirkan dampak negatif yang diakibatkannya, itulah sebabnya Nabi mengingatkan :
“Janganlah kamu saling marah, jangan saling dengki, dan jangan pula saling tidak acuh satu sama lain.Tapi jadilah kamu semua bersaudara.Tidak halal bagi seseorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari”
“Belum beriman seseorang kamu sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Siapa pun bisa marah - marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, semi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik bukan hal mudah.Itu sebabnya dalam situasi-situasi tertentu kita justru dianjurkan boleh marah, seperti memarahi anak yang sudah akil baligh tapi masih malas mengerjakan shalat fardhu lima waktu, atau memarahi isteri yang tidak patuh terhadap perintah-perintah sang suami.
Sebagai seorang muslim tentu kita senantiasa meneladani sifat-sifat Nabi dalam menjalani kehidupan kesehariannya. Sejarah sering mencatat bahwa betapa ikhlas dan rendah hatinya Nabi memaafkan seseorang yang sebenarnya sangat pantas untuk dimarahinya.
Sekali waktu, seorang Yahudi bertamu ke rumah beliau, dijamunya tamunya tersebut sampai kenyang, dan alas tidurnya sendiripun diberikannya pada sang tamunya itu.Tapi dengan penuh kebencian tamunya itu mengeluarkan kotorannya di atas alas tidurnya dan pergi begitu saja tanpa membawa pedangnya.Melihat sang tamu telah pergi,Nabi merasa iba kepada sang tamu karena tahu bahwa pedang tamunya ketinggalan di rumahnya.Lalu Nabi membersihkan kotoran sang tamu yang berserakan di alas tidurnya itu, tidak lama berselang dilihatnya sang tamunya datang kembali untuk mengambil pedangnya yang tertinggal itu, namun Nabi tidak sedikit pun memperlihatkan tanda-tanda kemarahannya, bahkan beliau berkata,”Sahabat, ini pedangmu yang tertinggal, ambillah.” Terkesima melihat betapa santun dan pemaafnya Nabi si tamu itu merasa malu dan minta maaf pada Nabi kemudian menyatakan memeluk agama Islam.
Nah, bagi kita yang kebetulan begitu mudah mengumbar amarah dan sulit memaafkan orang lain semoga kita senantiasa ingat firman Allah dan sabda Nabi berikut :
“Syurga yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan bagi orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain.” (QS.3:134)
“Mereka yang mengharapkan ampunan Allah hendaklah suka memaafkan dan berlapang dada.” (QS24:22)
“Manusia adalah saudara bagi manusia lainnya, baik ia suka maupun tidak suka”.(Hadits)
“Ketahuilah, marah itu adalah bara di hati manusia.Tidakkah kalian lihat mata orang yang sedang marah memerah dan emosinya bergemuruh.Maka barangsiapa sedang marah hendaklah ia membaringkan tubuhnya.”
Hampir senada dengan peringatan Nabi di atas Norman Vincent Peale berkata:
“Ingatlah, bahwa amarah adalah merupakan emosi, dan emosi selalu hangat, dan akan menjadi panas.Jika kita ingin mengurangi emosi, kita harus menyejukkannya, mendinginkannya.Dan bagaimana cara mendinginkannya?Bila kita marah, tangan-tangan kita cenderung mengepal,suara menjadi lebih tinggi,otot-otot menjadi tegang dan tubuh menjadi kaku.Itu adalah gambaran sikap manusia purba dalam diri kita.Oleh karena itu lawanlah sekerasnya dengan mendinginkan otak Anda.Dengan kemauan yang keras pula, cegahlah tangan-tangan yang mengepal bagaikan tinju itu.Luruskan jari-jari itu.Dengan kehendak yang sama kerasnya kuasailah nada suara Anda sehingga tidak meninggi lagi, rendahkah suaranya dan lembutkanlah tangan-tangan Anda.
Terakhir, tetapi bukan berarti terkecil artinya Epictitus juga pernah mengingatkan:
“Pada akhirnya nanti, setiap orang harus menebus hukuman atas perbuatan-perbuatan yang salah.Orang yang selalu ingat akan hal itu, pasti tidak akan marah kepada siapa pun, tidak akan dendam, tidak akan mencerca, tidak akan menyalahkan, tidak akan melukai hati,serta tidak akan benci pada siapa pun.”
** Irwin Sigar,penulis Catatan-Catatan Kecilku:Sebuah Refleksi Memaknai Kehidupan
Langganan:
Postingan (Atom)






